Pencurian ikan di perairan laut Indonesia masih tetap menjadi ancaman. Karena itu Badan Koordinasi Keamanan Laut atau Bakorkamla bersama para stake holder selalu meningkatkan operasi yang disesuaikan dengan tindak kejahatan tersebut.
Menjawab pertanyaan Pelita, di ruang kerjanya akhir pekan lalu, Kepala Pelaksana Harian atau Kalakhar Bakorkamla Laksamana Madya TNI Y Didik Heru Purnomo mengemukakan, untuk mengatasi pencurian ikan di laut tersebut pihaknya meningkatkan frekuensi operasi.
Jika selama ini Bakorkamla dan jajarannya melaksanakan Operasi Gurita dua kali dalam setahun, maka di bawah kepemimpinan laksamana bintang tiga lulusan AAL tahun 1975 itu, Bakorkamla menggelar Operasi Gurita sebanyak tiga kali dalam setahun.
Diakui, dengan adanya operasi-operasi yang dilakukan Bakorkamla; tingkat pelanggaran lain di laut terasa menurun. Tapi, khusus pencurian ikan di laut masih tetap menjadi ancaman.
Selain berusaha mengatasi pencurian ikan di laut Indonesia, Bakorkamla terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak termasuk dengan negara-negara tetangga, seperti belum lama ini dengan Australia yaitu Australian Exercise, di Darwin. Latposko pengamanan laut secara regional itu diikuti Indonesia, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Timor Leste.
Pertemuan di Darwin itu membahas pengamanan laut secara regional, jelas mantan Kasum TNI dan Wakasal itu. Tujuannya untuk menanggulangi migrasi ilegal, polusi di laut, dan mengatasi perompakan. Kita memiliki kesamaan pandang mengatasi masalah-masalah itu, ujarnya.
Menjawab pertanyaan apa yang akan dilakukan Bakorkamla menghadapi berbagai tantangan mendatang, Laksamana Madya TNI Y Didik Heru Purnomo mengatakan pentingnya penguasaan teknologi. Ia memberikan contoh dengan memiliki suatu peralatan canggih, Bakorkamla akan bisa memantau situasi perairan di Indonesia secara real time.
Selain itu berharap agar kapal-kapal patroli bisa dibuat dan dibangun di dalam negeri, karena sebenarnya kemampuan teknologinya sudah dikuasai putri-putri Indonesia.
Sumber :
PELITA