Pemerintah Indonesia hari ini akan mendengarkan paparan Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Stephen Smith mengenai proposal pendirian Pusat Suaka Regional di Timor Leste.
Smith akan menggelar pertemuan dengan Menlu Indonesia Marty Natalegawa, di Jakarta hari ini. Selain membahas isu bilateral, regional, dan multilateral, keduanya diperkirakan akan membahas soal proposal pendirian Pusat Suaka Regional di Timor Leste. Proposal tersebut disampaikan Perdana Menteri (PM) Australia JuliaGillard,awalpekanlalu.Terkait proposal Australia, juru bicara Kementrian Luar Negeri (Kemlu) Teuku Faizasyah mengatakan Indonesia belum menerima penjelasan apapun dari negara yang bersangkutan sehingga pertemuan besok lebih pada mendengarkan pemaparan Australia dan belum bisa melangkah lebih jauh dari itu.
Soal kompensasi, dia juga menegaskan Indonesia tidak pernah mengutak-atiknya karena hingga kini belum ada pembahasan apapun sehingga Indonesia belum bisa memberi sikap. “Mungkin kita akan mendengarkan penjelasan Australia soal itu. Ini kan baru penyampaian semacam kebijakan belum ada deskripsi utuh.Kita belum mendengar pernyataan mereka secara langsung. Proposal itu adalah sesuatu yang belum kita pahami,” papar Faizasyah, saat dihubungi Seputar Indonesia,kemarin. Faizasyahmenambahkansejauh ini Indonesia dan Australia hanya berdiskusisoal peoplesmugglingdiforum Bali Process yang diikuti 40 negara dan puluhan institusi lainnya.
Masalah pencari suaka sudah lama menjadi persoalan bagi Indonesia dan Australia karena mereka yang menuju ke Australia melalui perairan Indonesia dan mereka sering tertangkap kapal patroli Indonesia hingga ditampung di Tanjung Pinang,Kepulauan Riau. Australia melihat pendirian Pusat Suaka Regional di Timor Leste akan mempermudah bagi siapa pun yang ingin memproses suaka ke Australia karena mereka fokus ke satu wilayah tujuan di kawasan Pasifik.Mereka juga berharap jumlah pencari suaka akan berkurang drastis karena perjalanan panjang mereka justru harus dibayar dengan tinggal di Timor Leste. Proposal Australia ini mendapat tantangan keras dari parlemen Timor Leste karena dikhawatirkan akan menimbulkan banyak persoalan.
Berbeda dengan sikap parlemen, Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta membuka diri untuk proposal itu meskipun hanya bersifat sementara.Kedua negara masih berdiskusi tentang kemungkinan pusat suaka itu dan hingga kini belum menyatakan sikap bersama. “Saya tidak ingin Timor Leste dijadikan pulau penjara untuk menampung pelarian,”ujarnya. Senada dengan Horta, PM Timor Leste Xanana Gusmao juga mempertimbangkan tawaran Australia untuk menjadikan negaranya sebagai pusat suaka. “Ini bukan hanya persoalan Australia,tapi juga masalah regional.Pemerintah kami tidak bisa menghindarinya,” papar Xanana. Secara tradisi,Negeri Kanguru bukanlah tujuan favorit pencari suaka. Jerman, Inggris, Prancis atau Amerika Serikat lebih sering dijadikan sebagai tujuan utama.
Namun, dalam tiga tahun terakhir jumlah pencari suaka dan imigran gelap di Australia meningkat tajam. Kebanyakan mereka datang dari Timur Tengah, Asia Tengah dan Selatan seperti Afghanistan. Mereka menggunakan perahu menuju ke Australia dengan melalui perairan Indonesia. Dalam perjalanannya, manusia-manusia perahu itu banyak ditangkap petugas patroli Indonesia. Sampai 19 Mei tercatat ada 2.982 pencari suaka yang menuju ke Australia.
Sumber :
Sindo